Jumat, 25 Februari 2011
PASANG SPEAKER AKTIF MOBIL
langsung aja ya gan kita oprek tentang pemasangan speaker aktif ke mobil tanpa harus menguras strum dari aki mobil kamu.
1. siapin aki motor
2. speaker aktif
3. tekad dan niat
cara perakitan :
1. buka speaker aktif (biasanya dari belakang), setelah kamu buka pasti kamu akan melihat rangkaian adaptor dari AC ke DC
2. potong dan buang adaptor, jadi tinggal dua kabel untuk arus DC saja.
3. sambungin aja tu kabel ke aki motor yang berukuran kecil.
4. loe tes dulu dah. tu speaker mau idup g. kalo indikator lampu speaker udah nyala berarti udah bisa di gunakan.
5. letakan aki motor itu kedalam speaker aktif (sesuaikan ukuran) tapi jangan lupa sebelum dimasukin jangan lupa pasang colokan buat nge-cas ntu aki.
6. selamat ber ajep-ajep di mobil. dan yang pastinya loe g usah kawatir dengan aki mobil kamu
(kalo loe kreatif loe bisa kembangin sendiri ide tersebut)
METODE PEMBELAJARAN YANG BAIK
Banyak orang tua yang masih beranggapan bahwa belajar itu seharusnya hanya di ruang kelas, di mana anak-anak duduk tekun mendengarkan gurunya menjelaskan setiap mata pelajaran. Bahkan untuk pendalamannya, anak seharusnya diberi pekerjaan rumah (PR). Ternyata, banyak juga guru yang berpendapat demikian. Apakah benar bahwa seperti itulah metode pembelajaran yang baik? Bagaimanakah metode pembelajaran yang baik itu?
Metode pembelajaran yang baik seharusnya selaras dan mendukung pencapaian tujuan kurikulum yang baik. Di Indonesia, kurikulum sekolah harus selaras dengan Undang-Undang Sisdiknas pasal 3 nomor 20 tahun 2003, yang pada intinya adalah mengamanat kepada setiap sekolah untuk melaksanakan pendidikan secara holistik dengan cara mengembangkan seluruh potensi peserta didik. Dengan kata lain, metode pembelajaran yang baik bukan hanya mengembangkan aspek kognitif atau akademik saja, tetapi juga harus mampu membentuk manusia utuh (whole person) yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole) (Megawangi, Latifah, Dina, 2004).
Dengan demikian, orang tua dan guru harus menyadari bahwa metode pembelajaran yang baik harus mampu mengembangkan seluruh potensi anak secara holistik. Artinya, seluruh dimensi perkembangan anak dikembangkan. Perlu diketahui pula bahwa hasil studi mutakhir (Megawangi, dkk., 2004) menunjukkan bahwa seluruh dimensi perkembangan anak tersebut (fisik, sosial, emosi, dan kognitif/akademik) terjadi secara simultan dan terintegrasi; tidak masing-masing berdiri sendiri. Dengan kata lain, perkembangan salah satu aspek dipengaruhi oleh aspek yang lainnya. Sebagai contoh, anak yang perkembangan sosialnya kurang baik, cenderung tidak disukai oleh teman-temannya. Kondisi ini akan mempengaruhi kemampuannya dalam bekerja dan belajar kelompok dan membuat anak merasa tidak nyaman berada di lingkungannya. Akhirnya, proses belajarnya terganggu dan prestasi pun tidak baik.
Berdasarkan paparan di atas, maka sangat penting bagi para pendidik untuk menyadari pentingnya konsep pendidikan anak secara holistik, yaitu konsep pendidikan yang mengembangkan seluruh potensi anak dan metode pembelajarannya disajikan secara terintegrasi dan menyenangkan bagi anak sehingga anak dapat terkembangkan berbagai potensinya secara simultan. Hal ini sesuai dengan pemikiran para pakar dan pendidik yang bergabung dalam NAEYC (National Association for the Education of Young Children) di AS (yang beranggotakan lebih dari 100.000 orang dari berbagai negara) yang menekannkan bahwa pendidikan harus sesuai dengan konsep Developmentally Appropriate Practices (DAP) (Megawangi, dkk., 2004).
Metode pembelajaran yang sejalan dengan konsep DAP adalah metode pembelajaran yang menyenangkan bagi anak. Metode ini, selain sesuai dengan tahapan perkembangan anak, juga memperhatikan keunikan setiap anak. Metode pembelajaran dengan konsep DAP dianggap dapat mempertahankan, bahkan meningkatkan gairah belajar anak-anak. Konsep DAP memperlakukan anak sebagai individu yang utuh (the whole child) yang melibatkan empat komponen, yaitu pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sifat alamiah (dispositions), dan perasaan (feelings); karena pikiran, emosi, imajinasi, dan sifat alamiah anak bekerja secara bersamaan dan saling berhubungan. Dengan kata lain, metode pembelajaran yang baik adalah metode pembelajaran yang dapat melibatkan semua aspek ini secara bersamaan, sehingga perkembangan intelektual, sosial, dan karakter anak dapat terbentuk secara simultan (Megawangi, dkk., 2004).
Telah disebutkan bahwa pendidikan di sekolah seharusnya bertujuan untuk membangun manusia holistik. Agar tujuan itu tercapai, maka prinsip pendidikan harus mengacu kepada prinsip-prinsip pembelajaran yang dapat mengarahkan proses pembelajaran secara efektif. Berdasarkan hasil studi pustaka dari berbagai sumber, maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga prinsip pembelajaran efektif bagi pendidikan terutama di tingkat dasar (Megawangi, dkk., 2004) :
1.
Pembelajaran memerlukan pastisipasi aktif para siswa (belajar aktif). Motivasi belajar akan meningkat kalau siswa terlibat aktif (mempraktekan) dalam mempelajari hal-hal yang konkrit, bermakna, dan relevan dalam konteks kehidupannya.
2.
Setiap anak belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda
3.
Anak-anak dapat belajar dengan efektif ketika mereka dalam suasana kelas yang kondusif (conducive learning community), yaitu suasana yang memberikan rasa aman dan penghargaan, tanpa ancaman, dan memberikan semangat.
Ketiga prinsip pembelajaran tersebut didukung oleh beberapa hasil riset otak yang mempunyai implikasi terhadap pendidikan. National Research Council (1999) dalam Megawangi, dkk. (2004) mengumpulkan dan mengkompilasikan berbagai hasil riset otak yang harus menjadi acuan bagi para pendidik agar proses pendidikan dapat berjalan dengan efektif. Beberapa hasil riset tersebut adalah :
1. Proses belajar melibatkan seluruh dimensi manusia (tubuh, pikiran, dan emosi)
2. Faktor emosi sangat berperan dalam mempengaruhi sistem limbik otak yang dikenal sebagai otak emosi. Sistem limbik ini berperan dalam memfilter segala macam persepsi yang masuk. Apabila persepsi yang masuk berupa ancaman, ketakutan, kesedihan, maka bagian batang otak yang merupakan otak reptil (binatang) akan lebih berperan sehingga seseorang akan berada dalam modus bertahan atau menyelamatkan diri. Suasana di kelas tradisional yang kaku akan menurunkan fungsi otak menuju batang otak, sehingga anak tidak bisa berpikir efektif. Sedangkan dalam kondisi yang menyenangkan, aman, dan nyaman akan mengaktifkan bagian neo-cortex (otak berpikir), sehingga dapat mengoptimalkan proses belajar dan meningkatkan kepercayaan diri anak.
3. Informasi yang menarik dan bermakna akan disimpan lebih lama dalam memori, sedangkan informasi yang membosankan dan tidak relevan, akan mudah dilupakan.
4. Kaitan erat antara aspek fisiologi, emosi dan daya ingat mempunyai implikasi penting bagi proses belajar, yaitu : suasana belajar yang menyenangkan, melibatkan seluruh aspek sensori manusia (panca-indera), relevan atau kontekstual, dan yang terpenting, proses belajar harus memberikan rasa kebahagiaan.
5. Manusia akan lebih mudah mengerti kalau terlibat secara langsung dalam mengerjakannya, atau dengan ingatan spatial (bentuk atau gambar).
Hasil studi Lewis dan Schaos (1996) dalam Megawangi, dkk. (2004) menunjukkan bahwa suasana kelas yang kondusif akan mempunyai dampak yang positif motivasi dan kemampuan anak. Adapun ciri-ciri kelas yang kondusif sehingga membuat para siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi, berani mencoba (risk-taker), dan menjadi pembelajar sejati adalah sebagai berikut :
*
Adanya pendidikan karakter secara eksplisit, sehingga akan terbentuk sikap anak yang saling menghormati, saling menghargai, bertanggung jawab, dan sebagainya.
*
Adanya peraturan dan kode etik yang dibuat dengan kesepakatan seluruh kelas dan dipatuhi dengan baik.
*
Hubungan antar siswa saling mendukung, tidak terlihat adanya persaingan antar siswa yang tidak sehat.
*
Adanya rasa saling percaya dan saling menghormati antar siswa dan guru. Guru menghormati dan memperlakukan siswa dengan baik.
*
Guru berusaha mengenal siswa secara pribadi dan mengetahui keunikan masing-masing siswa.
*
Guru bertindak sebagai fasilitator yang memberikan peluang berinisiatif bagi siswa dan memotivasi siswa untuk tertarik pada materi pelajaran.
*
Guru selalu siap untuk merencanakan kegiatan harian yang dapat menstimulasi seluruh dimensi perkembangan siswa.
*
Setiap siswa merasa bahwa keberadaannya sebagai anggota kelas diterima dan dihargai.
*
Setiap siswa merasa terlibat dalam pengambilan keputusan, dan para siswa berpartisipasi aktif dalam proses belajar.
*
Adanya kesempatan bagi para siswa untuk belajar dalam kelompok sehingga siswa dapat belajar bagaimana berinteraksi secara positif.
*
Iklim belajar yang menyenangkan; tidak ada tekanan dan beban yang berlebihan, tetapi siswa-siswa tercelup dalam kegiatan belajar secara intensif.
*
Iklim belajar yang memberikan peluang bagi siswa untuk membuat kesalahan sebagai bagian alami dalam proses belajar (tidak memvonis siswa yang belum menguasai pelajaran), sehingga para siswa bisa menjadi risk-taker, dan mempunyai motivasi untuk mempelajari hal-hal yang baru dan sulit.
Dari paparan tersebut di atas, maka kita sebagai orang tua dapat menilai apakah metode pembelajaran di sekolah anak-anak kita sesuai atau tidak dengan ketiga prinsip pembelajaran efektif ? Apakah proses pembelajarannya mempertimbangkan berbagai hal sesuai dengan hasil riset otak ? Apakah suasana kelasnya cukup kondusif bagi proses pembelajaran yang efektif ? Mengacu kepada indikator-indikator di atas, maka kita dapat menilai bagaimana praktek pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia. Sekarang kita dapat menilai apakah tindakan benar jika guru mempermalukan anak di depan kelas, memarahi atau bahkan menghukumnya? Hal ini dapat menyebabkan anak malu untuk mengungkapkan pikirannya di muka umum, dan menjadi tidak percaya diri. Selain suasana kelas yang tidak kondusif, sejak kecil anak-anak kita juga di “vonis” dengan adanya sistem ranking di kelas, sehingga ada istilah “mendapatkan ranking” (sepuluh besar) atau “tidak masuk ranking”. Sebagian besar anak kita sudah divonis bodoh sejak kecil karena hanya sedikit saja yang mendapat ranking. Terlebih jika anak sering dihukum dan dikritik oleh gurunya. Kondisi seperti ini akan membuat anak-anak kita menjadi individu-individu yang tidak memiliki rasa percaya diri atau malas untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Mungkin hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa kualitas SDM Indonesia berdasarkan Human Development Index (HDI) cukup memprihatinkan?
Jika banyak guru yang mengajar di kelas dengan suasana yang tidak kondusif, maka hal itu bukan semata kesalahan guru, tetapi merupakan kesalahan sebuah sistem pendidikan yang orientasinya kepada mengejar keberhasilan akademik, yaitu sistem yang mengejar target kurikulum sekolah dengan segenap jadwal tes harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Padahal menurut Megawangi, dkk. (2004), untuk anak-anak usia dini, yang terpenting adalah ditanamkan sikap agar anak selalu cinta belajar, bukan semata-mata harus bisa. Jika harus bisa (dengan mengadakan ulangan atau tes), suasana belajar menjadi penuh beban, sehingga otak limbik anak tertutup, yang akhirnya membuat anak tidak dapat mencapai potensi optimalnya.
Nah, bagaimana pendapat Anda sekarang tentang metode pembelajaran anak Anda di sekolah? Apakah belajar itu harus selalu di ruang kelas dengan suasana yang membosankan? Apakah sekolah anak Anda sudah menerapkan metode pembelajaran yang baik? Silakan Anda menilainya.
Referensi :
Megawangi, R; M. Latifah; W.F. Dina. 2004. Pendidikan Holistik : Aplikasi KBK untuk Menciptakan Lifelong Learners. Indonesia Heritage Foundation.
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Abdurrahman dan Bintoro memberi batasan model pembelajaran kooperatif sebagai pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar sesama siswa sebagai latihan hidup dalam masyarakat nyata (Nurhadi dan Senduk, 2003: 60).
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang diupayakan untuk dapat meningkatkan peran serta siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berinteraksi dan belajar secara bersama meskipun mereka berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda.
B. Landasan Teoritis Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif didasarkan teori konstruktivistik, bahwa siswa dapat menemukan dan memahami konsep-konsep yang dipelajari dengan cara mongkonsrruksi pengalamannya. Usaha untuk mengkonsrruksi pengalaman akan lebih mudah dilakukan jika mereka melakukannya dengan bekerja sama. Menurut Arends (2008: 37), akar intelektual pembelajaran kooperatif berasal dari tradisi pendidikan yang menekankan pemikiran dan praktis demokratis: belajar secara aktif, perilaku kooperatif, dan menghormati pluralisme di masyarakat yang multikultural.
C. Unsur-unsur Pokok Model Pembelajaran Kooperatif
Ada 4 unsur pokok model pembelajaran kooperatif, yaitu: 1. adanya peserta dalam kelompok, 2. adanya aturan kelompok, 3. adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, dan 4. adanya tujuan yang akan dicapai (Sanjaya, 2009: 241).
1. Adanya Peserta dalam Kelompok
Peserta pembelajaran kooperatif adalah para siswa yang melakukan kegiatan belajar secara berkelompok. Pengelompokan siswa bisa dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan, misalnya minat, bakat kemampuan akademis, dst. Pertimbangan apapun yang dipilih dalam mengelompokkan siswa, tujuan pembelajaran harus yang diutamakan.
2. Adanya Aturan Kelompok
Aturan kelompok merupakan sesuatu yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat, baik siswa sebagai peserta didik maupun siswa sebagai anggota kelompok.
3. Adanya Upaya Belajar Setiap Anggota Kelompok
Upaya belajar merupakan segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuan, baik kemampuan yang telah dimiliki, maupun kemampuan yang baru. Aktivitas belajar siswa dilakukan secara berkelompok, sehingga diantara mereka terjadi saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan.
4. Adanya Tujuan yang Akan Dicapai
Aspek tujuan dalam model pembelajaran ini dimaksudkan untuk memberikanb arah pada perencanaan, pelaksanaan, dan juga evaluasi. Dengan adanya tujuan yang jelas, setiap anggota kelompok dapat memahami sasaran setiap aktivitas belajar.
D. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling berhubungan. Elemen-elemen yang sekaligus merupakan karakteristik pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan hubungan antar pribadi (Nurhadi dan Senduk, 2003: 60). Berikut penjelasan untuk masing-masing elemen.
1. Saling Ketergantungan Positif
Saling ketergantungan positif adalah hubungan yang saling membutuhkan. Saling ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil yang optimal, yang dicapai melalui: a. saling ketergantungan pencapaian tujuan, b. saling ketergantungan dalam menyelesaikan tugas, c. saling ketergantungan bahan atau sumber belajar, d. saling ketergantungan peran, dan saling ketergantungan hadiah.
2. Interaksi Tatap Muka
Interaksi tatap muka terwujud dengan adanya dialog yang dilakukan bukan hanya antara siswa dengan guru tetapi juga antara siswa dengan siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar. Fakta seperti itu dibutuhkan karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesama siswa.
3. Akuntabilitas Individual
Pembelajaran kooperatif terwujud dalam bentuk belajar kelompok. Meskipun demikian penilaian tertuju pada penguasaan materi belajar secara individual. Hasil penilaian pada kemampuan individual tersebut selanjutnya disampaikan guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa diantara mereka yang memerlukan bantuan dan yang dapat memberikan bantuan.
4. Keterampilan Menjalin Hubungan antar Pribadi
Dalam pembelajaran kooperatif keterampilan menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) dikembangkan. Pengembangan kemampuan tersebut dilakukan dengan melatih siswa untuk bersikap tenggang rasa, sopan, mengkritik ide bukan pribadi, tidak mendominasi pembicaraan, menghargai pendapat orang lain, dst.
E. Dasar Pertimbangan Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif
Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu (Sanjaya, 2009: 243), yaitu sebagai berikut.
1. Guru menekankan pentingnya usaha kolektif di samping usaha individudual dalam belajar.
2. Guru menghendaki seluruh siswa berhasil dalam belajar.
3. Guru ingin menunjukkan pada siswa bahwa siswa dapat belajar dari temannya,
4. Guru ingin mengembangkan kemampuan komunikasi siswa.
5. Guru menghendaki motivasi dan partisipasi siswa dalam belajar meningkat
6. Guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.
F. Variasi-variasi dalam Model Pembelajaran Kooperatif
Ada 4 metode yang dapat dilaksanakan oleh guru dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif (Trianto, 2007: 49). Keempat metode dimaksud adalah: metode STAD, Metode Jigsaw, Metode GI (group investigation), dan metode struktural.
1. Metode STAD
a. Karakteristik Metode STAD
STAD kependekan dari Student Team Achievement Divisions. Metode ini dikembangkan oleh Robert Slavin dkk. dari Universitas John Hopkins. Dalam metode STAD guru membagi siswa suatu kelas menjadi beberapa kelompok kecil atau tim belajar dengan jumlah anggota setiap kelompok 4 atau 5 orang siswa secara heterogen. Setiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan saling membantu untuk menguasai materi ajar melalui Tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota tim. Secara individual atau kelompok setiap satu atau dua minggu dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap materi yang telah mereka pelajari. Setelah itu seluru siswa dalam kelas tersebut diberikan materi tes tentang materi ajar yang telah mereka pelajari. Pada saat menjalani tes mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
b. Sintaks Metode STAD
Sintaks metode STAD terdiri atas 6 fase (Trianto, 2007: 54), yaitu sebagai berikut ini.
Fase ke-1: menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa untuk aktif belajar.
Fase ke-2: menyajikan materi ajar kepada siswa dengan jalan mendemonstrasikan atau melalui bahan bacaan.
Fase ke-3: menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar .
Fase ke-4: membimbing setiap kelompok belajar untuk belajar dan bekerja.
Fase ke-5: mengevaluasi hasil belajar dan kerja masing-masing kelompok.
Fase ke-6: Guru memberikan penghargaan pada para siswa baik sebagai individu maupun kelompok, baik karena usaha yang telah mereka lakukan maupun karena hasil yang telah meerka capai.
2. Metode Jigsaw
a. Karakteristik Metode Jigsaw
Metode Jigsaw dikembangkan dan diuji oleh Elliot Aronson dan rekan-rekan sejawatnya (Arends, 2008: 13). Dalam metode Jigsaw para siswa dari suatu kelas dikelompokkan menjadi beberapa tim belajar yang beranggotakan 5 atau 6 orang secara heterogen. Guru memberikan bahan ajar dalam bentuk teks kepada setiap kelompok dan setiap siswa dalam satu kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari satu porsi materinya. Para anggota dari tim-tim yang berbeda tetapi membahas topik yang sama bertemu untuk belajar dan saling membantu dalam mempelajari topic tersebut. Kelompok semacam ini dalam metode Jigsaw disebut kelompok ahli (expert group).
b. Sintaks metode Jigsaw
Pelaksanaan metode Jigsaw terdiri dari 6 langkah kegiatan (Trianto, 2007: 56-57) sebagai berikut.
Fase ke-1: Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok belajar. Setiap kelompok beranggotakan 5 – 6 orang siswa.
Fase ke-2: Guru memberikan materi ajar dalam bentuk teks yang telah terbagi menjadi beberapa sub materi untuk dipelajari secara khusus oleh setiap anggota kelompok.
Fase ke-3: Semua kelompok mempelajari materi ajar yang telah diberikan oleh guru.
Fase ke-4: Kelompok ahli bertemu dan membahas topik materi yang menjadi tanggung jawabnya.
Fase ke-5 : Anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal masing-masing (home teams) untuk membantu kelompoknya.
Fase ke-6: Guru mengevaluasi hasil belajar siswa secara individual.
3. Metode Invenstigasi Kelompok (Group Investigation)
a. Karakteristik metode investigasi kelompok
Metode investigasi kelompok dirancang oleh Herbert Thalen dan metode pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit diimplementasikan (Arends, 2008: 14). Kompleksitas dan sulitnya implementasi metode ini dikarenakan keterlibatan siswa dalam merencanakan topik-topik materi ajar maupun cara mempelajarinya melalui investigasi. Pada metode investigasi kelompok, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok secara heterogen yang masing-masing beranggota 5 atau 6 orang siswa. Siswa memilih topik-topik tertentu untuk dipelajari, melakukan investigasi mendalam terhadap sub-sub topik yang dipilih kemudian menyiapkan dan mempresentasikan hasil belajar di kelas.
b. Sintaks metode investigasi kelompok
Sharan dkk. sebagaimana pendapatnya dikutip Arends (2008: 14) mendeskripsikan 6 langkah metode investigasi kelompok sebagai berikut.
Fase ke-1: pemilihan topik
Siswa memilih sub-sub topik tertentu dalam bidang permasalahan umum yang biasanya dibahas oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggota 5 atau 6 orang.
Fase ke-2: perencanaan kooperatif
Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan sub-sub topik yang telah dipilih.
Fase ke-3: implementasi
Siswa melaksanakan rencana yang diformulasikan pada fase ke-2.
Fase ke-4: analisis dan sintesis
Sisma menganalisis dan mensistesis informasi yang diperoleh pada kegiatan fase ke-3.
Fase ke-5: presentasi hasil akhir
Beberapa atau semua kelompok melakukan presentasi di kelas tentang topik-topik yang mereka pelajari di bawah koordinasi guru.
Fase ke-6: evaluasi
Siswa dan guru mengevaluasi kontribusi masing-masing kelompok terhadap kerja kelas secara keseluruhan. Evaluasi dapat dilakukan secara individual, kelompok, atau keduanya.
4. Metode Struktural
a. Karakteristik metode struktural
Metode struktural dikembangkan oleh Spencer Kagan dkk. Meskipun memiliki banyak persamaan dengan metode lainnya, metode structural menekankan penggunaan struktur tertent yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa. Dua macam struktur yang dapat dipilih guru untuk melaksanakan metode structural adalah think-pair-share dan numbered head together.
1) Sintaks think-pair-share
Pelaksanaan think-pair-share terdiri 3 langkah : thinking, pairing, dan sharing (Arends, 2008: 15-16).
Langkah pertama: thinking (berpikir)
Guru mengajukan sebuah pertanyaan yang terkait dengan materi ajar dan memberikan waktu satu menit kepada siswa untuk memikirkan sendiri jawabannya.
Langkah kedua: pairing (berpasangan)
Guru meminta siswa untuk mendiskusikan secara berpasangan tentang apa yang siswa pikiran
Langkah ketiga: sharing (berbagi)
Guru meminta pasangan-pasangan siswa tersebut untuk berbagi hasil diskusinya dengan seluruh siswa di kelas.
2) Numbered heads together
Sintaks numbered heads together terdiri dari tiga langkah (Arends, 2008: 16), yaitu sebagai berikut.
Langkah pertama: numbering (penomoran)
Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3 sampai 5 orang dan member setiap anggota kelompok tersebut nomor secara berurutan.
Langkah kedua: questioning (pengajuan pertanyaan)
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan bias bervariasi.
Langkah ketiga: head together (berpikir bersama)
Para siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban atas pertanyaan dari gurunya.
Langkah keempat: answering (pemberian jawaban)
Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari setiap kelompok yang nomornya sama dengan nomor yang disebutkan guru mengangkat tangannya dan memberikan jawaban di depan kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Arends, Richard I. (2008) Learning to Teach: Belajar untuk Mengajar. Buku Dua. (Penterjemah: Helly Prayitno Soetjipto dan Sri Mulyantini Soetjipto). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nurhadi dan Senduk, Agus Gerrad. (2003) Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
Sanjaya, Wina. (2009) Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.
Trianto. (2007) Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Kamis, 07 Januari 2010
PEMBELAJARAN TEMATIK SD
A. Pengertian Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan
tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata
pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari mata pelajaran fisika,
biologi, kimia, dan matematika. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari
bidang studi lain, seperti IPS, bahasa, dan seni. Pembelajaran tematik
menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan
kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam
pendidikan. Unit yang tematik adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaran
yang memfasilitasi siswa untuk secara produktif menjawab pertanyaan yang
dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu dengan penghayatan secara
alamiah tentang dunia di sekitar mereka.
Keuntungan pembelajaran tematik bagi guru antara lain adalah sebagai
berikut:
1. Tersedia waktu lebih banyak untuk pembelajaran. Materi pelajaran tidak
dibatasi oleh jam pelajaran, melainkan dapat dilanjutkan sepanjang hari,
mencakup berbagai mata pelajaran.
2. Hubungan antar mata pelajaran dan topik dapat diajarkan secara logis dan
alami.
3. Dapat ditunjukkan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kontinyu, tidak
terbatas pada buku paket, jam pelajaran, atau bahkan empat dinding kelas.
Guru dapat membantu siswa memperluas kesempatan belajar ke berbgai aspek
kehidupan.
4. Guru bebas membantu siswa melihat masalah, situasi, atau topik dari berbagai
sudut pandang.
5. Pengembangan masyarakat belajar terfasilitasi. Penekanan pada kompetisi bisa
dikurangi dan diganti dengan kerja sama dan kolaborasi.
1
Keuntungan pembelajaran tematik bagi siswa antara lain adalah sebagai
berikut:
1. Bisa lebih memfokuskan diri pada proses belajar, daripada hasil belajar.
2. Menghilangkan
batas
semu
antar
bagian-bagian
kurikulum
dan
menyediakan pendekatan proses belajar yang integratif.
3. Menyediakan kurikulum yang berpusat pada siswa – yang dikaitkan
dengan minat, kebutuhan, dan kecerdasan; mereka didorong untuk
membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab pada keberhasilan
belajar.
4. Merangsang penemuan dan penyelidikan mandiri di dalam dan di luar
kelas.
5. Membantu siswa membangun hubungan antara konsep dan ide, sehingga
maningkatkan apresiasi dan pemahaman.
B. Kaitan Pembelajaran Tematik dengan Standar Isi
Dalam kerangka dasar dan struktur kurikulum yang dikeluarkan .Badan
Standar Nasional Pendidikan, dijelaskan bahwa untuk kelas I, II, dan III SD
pembelajaran dilaksanakan melalui pendekatan tematik. Mata pelajaran yang
harus dicakup adalah (1) pendidikan agama, (2) pendidikan kewarganegaraan,
(3) bahasa Indonesia, (4) matematika, (5) ilmu pengetahuan alam, (6) ilmu
pengetahuna sosial, (7) seni budaya dan keterampilan, dan (8) pendidikan
jasmani, olah raga dan kesehatan.
Dalam pembelajaran tematik, standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang termuat dalam standar isi harus dapat tercakup seluruhnya karena sifatnya
masih minimal. Sesuai dengan petunjuk pengembangan kurikulum tingkat
satuan pendidikan (KTSP), standar itu dapat diperkaya dengan muatan lokal
atau ciri khas satuan pendidikan yang bersangkutan.
2
C. Cara Merancang Pembelajaran Tematik
Pembelajaran
tematik
memerlukan
perencanaan
dan
pengorganisasian agar dapat berhasil dengan baik. Ada lima hal yang perlu
diperhatikan dalam merancang pembelajaran tematik, yaitu (1) memilih tema,
(2) mengorganisir tema, (3) mengumpulkan bahan dan sumber, (4) merancang
kegiatan dan proyek, dan (5) mengimplementasikan satuan pelajaran.
1. Memilih Tema
Topik untuk pembelajaran tematik dapat berasal dari beberapa sumber.
Inilah beberapa di antaranya
a. Topik-topik dalam kurikulum
b. Isu-isu
c. Masalah-masalah
d. Event-event khusus
e. Minat siswa
f. Literatur
2. Mengorganisasikan Tema
Pengorganisasian tema dilakukan dengan menggunakan jaringan topik,
seperti contoh berikut ini.
Seni
IPA
Agama
Kewarga-
negaraan
Matematika
“Air”
IPS
Bahasa
Olah raga
Indonesia
3
3. Mengumpulkan Bahan dan Sumber
Pembelajaran tematik berbeda dengan pembelajaran berdasarkan buku
paket tidak hanya dalam mendesain, melainkan juga berbagai bahan yang
digunakan. Inilah beberapa sumber:
a. Sumber-sumber yang tercetak
b. Sumber-sumber visual
c. Sumber-sumber literatur
d. Artifac
4. Mendesain Kegiatan dan Proyek
Inilah beberapa saran:
a. Integrasikan bahasa – membaca, menulis, berbicara, dan mendengar.
b. Hendaknya bersifat holistik.
c. Tekankan pada pada pendekatan “hands-on, minds-on”.
d. Sifatnya lintas kurikulum.
5. Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik
Beberapa kemungkinan implementasi:
a. Lakukan pembelajaran tematik sepanjang hari, untuk beberapa hari.
b. Lakukan pembelajaran tematik selama setengah hari untuk beberapa hari.
c. Gunakan pembelajaran tematik untuk satu atau dua mata pelajaran.
d. Gunakan pembelajaran tematik untuk beberapa mata pelajaran.
e. Gunakan pembelajaran tematik untuk kegiatan lanjutan.
Sumber : http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:BbKUtsEGg_UJ:www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/tematik.pdf+model+pembelajaran+tematik&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESgMrmnZSr_yf1RUgOpiIi3QzkQGqUKmPr8DNoJqP-EG0Zl_YRyE2W0-wRFrMPAPdcCGiXZ3S_fLJklbSblg7NCcB6wxgedm4gMXYtuloilmKvVNKt1iO8Z1cRa5EnzngriSgXVR&sig=AHIEtbT1j_QGv9VSA5MKOkEDXdIdnQcrZg
Rabu, 23 Desember 2009
Menyusun CTL
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Rasional
Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Pemikiran Tentang Belajar
Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.
Hakekat
Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.
Penerapan CTL dalam pembelajaran
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.
Jumat, 18 Desember 2009
N70 MULTITASKING SENDIRI
DESAIN PEMBELAJARAN PAIKEM .....
1. Pengantar
Beberapa orang memandang bahwa PAKEM sama dengan kerja kelompok. Jika dalam suatu kelas sedang berlangsung pembelajaran, dan disana siswa tetap duduk seperti orang menonton bioskop, semua menghadap ke depan, duduk berdua dengan satu bangku, maka dengan mudah dan cepat kita katakan kelas itu tidak PAKEM.
Tetapi sebaliknya jika kita masuk ke suatu kelas dan siswa sedang duduk kelompok, walau mereka hanya duduk dalam kelompok, dan tidak semua bekerja, maka dengan mudah kita mengatakan kelas itu PAKEM.
Seharusnya menilai PAKEM tidaknya suatu pembelajaran tidak cukup hanya dengan melihat pengaturan tempat duduk siswa, tetapi harus diperhatikan pula intensitas keterlibatan siswa dalam belajar.
Usaha-usaha yang menawarkan sebuah pembaharuan, termasuk penerapan PAKEM di kelas, biasanya akan menemui masalah. Beberapa masalah yang masih sering ditemukan baik dalam pelatihan maupun dalam penerapan PAKEM di kelas dapat dilihat di bawah ini.
| Beberapa temuan penerapan PAKEM di kelas adalah sebagai berikut: 1) Guru kurang banyak memperoleh kesempatan menyaksikan pembelajaran PAKEM yang baik 2) Guru kurang memiliki referensi (buku, video, dll) tentang pembelajaran PAKEM yang baik 3) Tugas yang diberikan bersifat tertutup dan banyak pengisian lembar kerja (LK) yang kurang baik. 4) Pembelajaran kurang memberikan tantangan sesuai kemampuan siswa 5) Pembelajaran hanya mengajarkan satu indikator dengan satu aktifitas. 6) Perbedaaan individual siswa kurang diperhatikan termasuk laki-laki/perempuan, pintar/kurang pintar, sosial ekonomi tinggi/rendah. 7) Pengelolaan siswa kurang sesuai dengan kegiatan 8) Guru merasa khawatir dan pesimis untuk melaksanakan PAKEM di kelas 6 dan 9. 9) Pajangan cenderung menampilkan semua apa yang dikerjakan siswa dengan hasil yang seragam. |
Berbagai kendala selalu ada, akan tetapi dukungan pun tak kurang banyak dalam menerapkan PAKEM. Berbagai pelatihan telah diikuti dan para guru telah melakukannya di kelas masing-masing.
Sebagai upaya untuk terus meningkatkan mutu pelaksanaan PAKEM, pada unit ini dibahas dan kaji secara berurutan: 1) telaah PAKEM, 2) pengembangan ide pembelajaran, 3) teknik bertanya, 4) pengorganisasian kelas, dan 5) pembe- lajaran kooperatif.
2. Tujuan :
Setelah mengikuti sesi ini, diharapkan peserta:
a. Mampu mengidentifasi sifat-sifat PAKEM tertentu dalam pembelajaran yang dilaksanakan
b. Mampu mengembangkan ide pembelajaran
c. Mampu mengidentifikasi jenis pertanyaan yang efektif
d. Mampu mengorganisasikan kelas sesuai dengan tugas pembelajaran
e. Mampu mengembangkan pembelajaran kooperatif
3. Persiapan
Setiap fasilitator perlu membaca keseluruhan isi paket pelatihan termasuk bab pendahuluan dan mendalami unit yang menjadi tanggung jawabnya agar memahami benar: Sumber bahan yang diperlukan, lembar kerja/slide powerpoint yang akan digunakan, pengorganisasian/pembagian kelompok dan waktu yang tersedia untuk setiap kegiatan (pengelolaan waktu).
4. Bahan Penunjang
1) Transparan OHP/slide powerpoint
2) Lembar tugas untuk modelling PAKEM
3) Pena, kertas lebar, gunting, spidol warna
5. Kegiatan
1) Pengantar (15 menit)
Fasilitator membuka sesi ini dan menyampaikan informasi yang berkaitan dengan isu dalam kegiatan PAKEM. Kemudian memberikan informasi tentang pengalaman belajar apa yang akan dilaksanakan dalam sesi ini.
2) Cerita dari Guru (Nara Sumber) (20 menit)
Satu atau dua nara sumber dipilih dari guru / fasilitator yang sudah berhasil melaksanakan PAKEM / CTL dengan baik. Mereka diminta membawa hasil karya siswa dan / atau bahan ajaran yang kreatif, serta foto kalau ada. Mereka menjelaskan tentang pembelajaran yang berkaitan dengan bahan yang dibawa.
3) Diskusi tentang Keberhasilan dan Hambatan (30 menit)
Para peserta dibagi kelompok 5 – 6 orang untuk membahas (i) keberhasilan dalam melaksanakan PAKEM / CTL dan (ii) hambatan yang dihadapi. Hasil diskusi ditulis di kertas besar untuk dipajanagkan.
4) Belanja dan Diskusi (40 menit)
Para peserta bekeliling membaca hasil diskusi kelompok lainnya (15 menit), ditindaklanjuti dengan diskusi pleno tentang temuan (25 menit)
5) Modelling dan Diskusi :Konvensional dan PAKEM (120 menit)
Dalam sesi ini akan ditampilkan 2 modelling pembelajaran yaitu :
a. Pembelajaran Konvensional
b. Pembelajaran PAKEM
Dalam pembelajaran konvensional dan PAKEM tersebut, fasilitator bertindak sebagai model dan menyajikan contoh pembelajaran konvensional dan PAKEM. Contoh pembelajaran mencakup 2 mata pelajaran yaitu : bahasa Indonesia dan Matematika. Dalam penyajian modelling ini peserta dibagi dalam beberapa kelompok (tergantung banyaknya peserta). Setiap kelompok dibagi 2, yaitu kelompok yang berperan sebagai siswa dan kelompok yang berperan sebagai pengamat. Kelompok pengamat dilengkapi dengan lembar pengamatan yang sudah disiapkan (lampiran 9). Bahan, tahapan detail dan lembar kerja lihat di lampiran 1-8.
6) Pengembangan Gagasan Pembelajaran (45 menit)
Setelah peserta mengamati 2 model pembelajaran di atas, peserta mendiskusikan hasil kegiatan tersebut termasuk membahas lembar pengamatan yang diisi kelompok pengamat (lampiran 9). Setelah diskusi mereka mencoba mengembangkan ide-ide sederhana yang mungkin bisa diterapkan dalam pembelajaran PAKEM yang akan dilakukan, termasuk: cara bertanya, kerja kelompok, dan sebagainya.
a. Peserta dalam kelompok 4-5 orang mengembangkan langkah-langkah KBM untuk satu topik yang diberikan oleh fasilitator atau diseleksikan oleh peserta sendiri. Langkah-langkah tersebut harus memperhatikan ciri-ciri pembelajaran PAKEM di atas.
b. Kelompok-kelompok saling menukar hasil kerjanya dan memberikan masukan perbaikan.
7) Ketrampilan bertanya (60 menit)
a. Fasilitator menayangkan PowerPoint/OHP dengan pertanyaan berikut untuk menimbulkan gagasan dari peserta:
· Mengapa kita mengajukan pertanyaan kepada siswa?
· Pertanyaan apa yang sering disampaikan oleh guru, mengapa?
b. Lewat Powerpoint/OHP, dan lembar bacaan, fasilitator memberi contoh bacaan (lihat Lampiran 10) dan berbagai pertanyaan yang memuat/mengacu pada ketiga jenis/sifat pertanyaan di bawah ini:
· mencari informasi
· memanfaatkan pengetahuannya
· menciptakan sesuatu yang baru dan memberikan pendapat
c. Peserta ( dalam kelompok kecil 3-4 orang ) menyusun 3 pertanyaan dari ketiga jenis/sifat pertanyaan di atas, dengan menggunakan teks yang sama
d. Peserta saling menukar pertanyaan untuk didiskusikan kualitas pertanyaan dan memberi tanggapan/perbaikan. Peserta meninjau kembali hasil perbaikan dan saran dari kelompok lain untuk kemudian disempurnakan dan dikembangkan
e. Secara pleno Fasilitator dengan memakai Powerpoint atau OHP mengajukan kepada peserta pertanyaan sebagai berikut:
a) Pertanyaan mana yang dianggap mudah untuk ditulis dan dijawab?
b) Pertanyaan mana yang dianggap sulit untuk ditulis dan dijawab? mengapa?
c) Apa yang bisa membantu kita untuk menyusun pertanyaan seperti kategori b dan c.
f. Fasiltator menutup kegiatan ini dengan bertanya kepada peserta untuk reviu kembali pertanyaan dalam contoh pembelajaran PAKEM dan mengidentifikasikan jenisnya pertanyaan dari tiga kategori yang dibahas tadi (mencari informasi; memanfaatkan pengetahuannya; menciptakan sesuatu yang baru dan memberikan pendapat)
8) Pengorganisasian kelas (60 menit)
Untuk kegiatan tentang pengorganisasian kelas, bila ada video tentang pengorganisasian kelas dapat ditayangkan sebagai salah satu sumber dan media pembelajaran pada awal kegiatan itu. Jika tidak ada, langkah-langkah berikut dapat dilakukan.
a. Dengan memakai Powerpoint/OHP, fasilitator mengajukan pertanyaan berikut kepada peserta tentang organisasi kelas (Klasikal, kelompok, dan individu).
· Apa yang anda ketahui tentang belajar klasikal, kelompok, dan individu?
· Kapan siswa belajar klasikal, kelompok atau individual?
· Mengapa siswa bekerja/belajar secara klasikal, kelompok dan individual?
Peserta dan fasilitator kemudian membahas bersama (melalui penayangan Powerpoint/OHP) beberapa jenis organisasi dengan mencoba memberikan contoh tugas/kegiatan yang sesuai untuk jenis organisasi masing-masing (lihat Lampiran 11 dan 12).
b. Peserta mengidentifikasi kegiatan yang harus dikerjakan secara klasikal, kelompok atau individu dengan menggunakan lembar kerja berikut:
Tabel: Pengorganisasian kelas
Mengidentifikasi Kegiatan Klasikal, Kelompok Atau Individu
| No | Kegiatan pembelajaran | Pengelolaan kelas | Alasan | ||
| Klas | Klp | indv | |||
| 1. | Mendengarkan instruksi guru | | | | |
| 2. | Menggunakan termometer | | | | |
| 3. | Mencari kota-kota di peta | | | | |
| 4. | Melaporkan hasil tugas | | | | |
| 5. | Membuat diagram alir | | | | |
| 6. | Curah pendapat tentang tsunami | | | | |
| 7. | Menceritakan pengalaman waktu kecil | | | | |
| 8. | Meragakan tokoh cerita | | | | |
| 9. | Menulis cerita | | | | |
| 10. | Mengerjakan soal-soal matematika halaman 60 | | | | |
| 11. | Memperkirakan luas ruang kelas | | | | |
Sesudah tugas selesai peserta saling menukar pilihan dengan memberikan alasan dan komentar. Selanjutnya fasilitator menayangkan slide Power Point/OHP tips pengorganisasian kelas (Lihat Lampiran 13)
9) Pembelajaran Kooperatif (60 menit)
Dalam sesi ini ada 2 kegiatan pokok. Pertama, fasilitator menyajikan bahan-bahan/informasi yang berkaitan dengan pembelajaran koooperatif. Kedua, peserta melakukan aktivitas yang berhubungan dengan pembelajaran kooperatif melalui bahan yang sudah disiapkan oleh fasilitator. Bahan dapat dilihat dalam Lampiran 14 - 15 .
1) Guru
· Guru lebih banyak memberi kesempatan anak untuk bekerja (menemukan sendiri, mengungkapkan pendapat dsb.)
· Guru menciptakan pembelajaran yang menantang
· Guru mempergunakan berbagai media, metode, dan sumber belajar, termasuk sumber belajara dan bahan dari lingkungan
· Guru memberikan tugas dan bantuan yang berbeda sesuai dengan kemampuan siswa
· Guru mengelola kelas secara fleksibel (individu, kelompok, pasangan) sesuai tugas yang diberikan untuk melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
2) Siswa
· Siswa tidak takut bertanya
· Ada interaksi antara siswa untuk mmebahas dan memecahkan masalah
· Siswa aktif bekerja
· Siswa dapat mengungkapkan dengan kata-kata sendiri
· Siswa melakukan kegiatan baca mandiri
· Siswa melakukan kegiatan proyek (teknologi sederhana, menulis biograpi tokoh).
3) Kelas
· Ada pajangan yang merupakan hasil karya siswa
· Pajangan dimanfaatkan sebagai sumber belajar
· Penataan tempat duduk memudahkan interaksi guru dengan siswa, siswa dan siswa
· Ada penataan sumber belajar (alat bantu belajar, poster, buku) yang dimanfaatkan siswa.
Lampiran 1
Modeling pembelajaran Konvensional dan PAKEM
1) Persiapan dan pengorganisasian kelompok
a. Persiapan
Selama kegiatan ini, fasilitator akan memberikan 2 contoh (model) pembelajaran, yakni: pembelajaran konvensional, dan pembelajaran PAKEM. Contoh tersebut mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika (Lihat Lampiran 1- 4 ). Untuk melaksanakan tugas ini dengan baik, Anda (fasilitator) harus merencanakan dan menyiapkan pembelajaran yang meliputi:
· Mengorganisasikan peserta ke dalam kelompok beserta peran masing-masing dalam kelompok
· Mengorganisasikan ruang belajar
· Mengorganisasikan bahan-bahan yang diperlukan untuk melaksanakan model pembelajaran
b. Pengorganisasian kelompok
Pengorganisasian kelompok akan tergantung pada jumlah peserta dan ketersediaan ruangan. Saran pengaturan diberikan tetapi Anda mungkin menyesuaikannya dengan situasi setempat. Model ini didasarkan jumlah peserta 100 orang peserta.
Kegiatan ini melibatkan setengah kelompok menjadi “siswa” dan setengahnya lagi menjadi pengamat.
c. Pengorganisasian ruang belajar
Selama pembelajaran konvensional, meja dan kursi diatur menghadap ke papan tulis dan “siswa” duduk berjajar. Meja dan kursi perlu diatur kembali setelah model pembelajaran pertama (pembelajaran konvensional) untuk memberikan kesempatan kepada peserta bekerja dalam kelompok-kelompok pada model pembelajaran kedua (pembelajaran PAKEM).
Selama pembelajaran konvensional, pengamat duduk di samping “siswa” . Dalam pembelajaran PAKEM para pengamat duduk di antara kelompok “siswa”. Pengamat tidak berpartisipasi di dalam pembelajaran, tetapi mengamati dan mengisi lembar observasi.
d. Pengorganisasian bahan untuk pelajaran.
Bacalah dengan teliti daftar bahan yang diperlukan pada awal model pelajaran dan pastikan Anda sudah siap dengan foto copy lembar kerja dan bahan yang tersedia. Bacalah petunjuk pelajaran dengan baik agara Anda mengetahui benar apa yang harus dikerjakan.
2) Pelaksanaan model pembelajaran
Ikutilah petunjuk yang diberikan dan usahakan melaksanakan pembelajaran seperti yang diberikan dalam model pembelajaran. Bagikan lembar observasi kepada para pengamat untuk mendeskripsikan aspek-aspek PAKEM. Laksanakan terlebih dulu pembelajaran konvensional dan kemudian pembelajaran PAKEM.
a) Dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang (sebagian anggota sebagai pengamat dan sebagian sebagai “siswa”) menyimpulkan hasil pengamatannya dan membandingkan hasil dari pengamatan proses dan hasil kerja “siswa” antara pembelajaran konvensional dan PAKEM.
b) Peserta membandingkan ciri-ciri dari kedua pembelajaran tersebut. Peserta diminta untuk mengidentifikasi ciri-ciri pembelajaran PAKEM, misalnya:
c) Fasilitator menyimpulkan hasil diskusi dengan menekankan ciri-ciri pembelajaran PAKEM dengan menggunakan power point/OHP yang terkait dengan ketiga ciri di atas.
Simulasi Pembelajaran Konvensional
Mata pelajaran: Bahasa Indonesia
Melaporkan : Tsunami 26 Desember 2005
1. Organisasi Pengaturan kelas konvensional
Fasilitator (guru) di depan kelas, dekat papan tulis, peserta (siswa ) duduk berjajar.
2. Bahan
Artikel, Lembar Kerja.
Pendahuluan
| Tsunami mulai dengan gempa di bawah laut. Kekuatan itu mematahkan dasar laut, mengerakkan air dan menimbulkan gelombang. Ketika gelombang mencapai perairan yang dangkal, kekuatannya meningkat dan semakin tinggi. |
2. Peserta menyalin jawaban tsb pada buku catatan mereka.
Kegiatan
2. Fasilitator memberitahu peserta mereka mendapat lembar kerja untuk dikerjakan. Peserta membaca lembar kerja dan menjawab pertanyaan pertanyaan. Fasilitator menjelaskan bacaan itu berasal dari laporan surat khabar tentang tsunami dan laporan laporan itu berisi fakta fakta mengenai apa yang terjadi. Sebagian besar pertanyaan adalah pertanyaan ingatan yang sederhana ada sedikit pertanyaan pemahaman. Peserta mengerjakan lembar kerja secara individual dan menuliskan jawaban di buku tulis mereka. (10 menit). Fasilitator tidak memperhatikan para peserta waktu mereka mengerjakan tugas seperti mengkoreksi pekerjaaan di meja fasilitator, keluar dari kelas untuk sementara waktu
Simpulan
Fasiltator menyuruh peserta melakukan koreksi bersama-sama. Fasilitator membacakan jawaban, peserta memberikan centang kalau jawabannya benar. Akhirnya peserta menghitung jawaban yang benar dan menuliskan nilai mereka.
LEMBAR KERJA PEMBELAJARAN KONVENSIONAL
MATA PELAJARAN: BAHASA INDONESIA
TSUNAMI 26 DESEMBER
Bacalah laporan surat kabar dan jawab pertanyaan pertanyaan:
Pada tanggal 26 Desember, gempa bumi yang terbesar dalam 40 tahun terakhir terjadi di Lautan India yang dalam di sebelah barat Sumatra yang menimbulkan gelombang tsunami yang besa. Gempa bumi berkekuatan 9 pada Skala Richter, skala yang mengukur kekuatan gempa. Banyak gempa susulan yang terjadi dengan kekuatan 5 skala richter atau lebih pada hari hari berikutnya, tetapi dampak susulan yang paling kuat dan merusak adalah dari gempa tsb adalah gelombang tsunami yang ditimbulkannya
Kata “tsunami“ berasal dari kata bahasa Jepang tsu (pelabuhan) dan nami (gelombang). Tsunami adalah gelombang atau rangkaian gelombang di laut yang panjangnya dapat mencapai ratusan mil dan ada yang tingginya sampai 10,5 meter. “Dinding air”bergerak hampir secepat pesawat penumpang jet. Gelombang tsunami tanggal 26 Desember mencapai jarak 600 km dalam waktu 75 menit. Itu berarti 480 km per jam.
Di laut dalam, gelombangnya hanya beberapa kaki tingginya,tetapi pada waktu gelombang mendekati pantai, energi dan tingginya meningkat. Sering sebelum tsunami datang, ada efek vakum raksasa, dan air terisap dari pelabuhan dan pantai pantai. Orang melihat dasar lautan penuh dengan ikan dan kapal kapal yang terdampar. Ini terjadi karena gelombang terdiri dari puncak, atau titik tertinggi, dan lembah atau titik terendah. Energi tsunami dipampatkan di air dangkal dan dengan cepat tumbuh makin tinggi. Tsunami sering muncul sebagai suatu rangkaian banjir yang kuat dan cepat, tidak berupa satu gelombang tunggal yang sangat besar.Walaupun demikian satu gelombang vertikal yang dinamakan “bore” pertama kali nampak, diikuti dengan banjir air yang cepat.
Salah satu hal yang membuat peristiwa ini sangat merusak adalah karena tsunami ini melanda daerah berpenduduk relative padat di tengah musim libur turis. Negara Negara yang paling parah kena tsunami termasuk Indonesia, Sri Langka, Thailand dan India.
Ujung barat pulau Sumatra, daerah berpenduduk yang paling dekat dengan epicentrum, porak poranda karena tsunami. Lebih dari 70% penduduk di beberapa desa di pantai dilaporkan meninggal. Lebih dari 95.000 orang Indonesia sudah dimakamkan dan 133.000 dinyatakan hilang, kemungkinan besar meninggal. Jumlah yang kehilangan rumah diperkirakan 800.000 orang.
Paling sedikit ada 100 organisasi bantuan yang beroperasi di Indonesia. Badan badan bantuan memberikan bantuan darurat berupa makan, air, dan tenda untuk 330.000 orang. Pemerintah memperkirakan beaya pembangunan kembali $ 4,5 milyard lebih selama 3 tahun yang akan datang. Bantuan dari Negara Negara lain dijanjikana $1,7 milyard tahun ini.
Jawablah pertanyaan pertanyaan ini di buku Anda
1. Apa yang terjadi pada tanggal 26 Desember?
2. Di manakah gempa bumi terjadi dan berapa kekuatannya?
3. Gempa bumi tsb dampaknya apa?
4. Mana yang lebih merusak, gempa bumi atau tsunami. Mengapa?
5. Kata tsunami berasal dari mana?
6. Apakah “tsunami” itu? Berapa tingginya dan berapa kecepatan bergeraknya? Dengan kecepatan tsb berapa jauh yang dicapai dalam 45 menit?
7. Apa yang terjadi pada waktu gelombang mendekati pantai?
8. Apakah tsunami selalu datang sebagai satu tembok air yang besar?
9. Mengapa begitu banyak orang yang meninggal terlanda tsunami?
10. Apakah menurut anda kurban akan bertambah lagi dalam minggu mingu ini? Mengapa?
11. Berapa orang yang dibantu badan badan bantuan dan apa yang mereka lakukan?
12. Berapa biaya pembangunan kembali setelah dilanda tsunami dan berapa lama diperlukan?
Lampiran 4
Simulasi Pembelajaran PAKEM
Mata pelajaran: Bahasa Indonesia
Melaporkan : Tsunami 26 Desember 2005
1. Organisasi pengaturan kelas :
· Bangku bangku diatur dalam kelompok kelompok. Peserta duduk dalam kelompok. Jumlah peserta dalam kelompok tergantung pada jumlah peserta di kelas, tetapi besar kelompok yang ideal antara 4 – 6 orang.
· Ada tiga macam kegiatan yang berbeda, oleh karena itu kelompok-kelompok perlu diorganisir dengan kelipatan 3
2. Bahan stimulus misalnya:
- gambar-gambar, video tentang tsunami, lembar kerja dan bahan bahan bacaan
Pendahuluan:
(Seluruh kelas)
1. Fasilitator memulai pelajaran dengan mengatakan: Saya akan menunjukkan beberapa gambar dan video. Perhatikan baik-baik dan tuliskan apa yang kamu ketahui mengenai peristiwa ini dan bagaimana perasaanmu. (pertanyaan terbuka)
2. Fasilitator menunjukkan gambar-gambar, clip video bencana tsunami. Peserta membuat catatan secara individual mengenai gambar gambar dan clip video video bencana tsunami. Peserta secara individual membuat catatan catatan tentang gambar gambar dan video dalam bentuk butir butir. (individual/berpasangan)
3. Fasilitator minta kepada peserta dalam kelompok untuk melihat respon mereka dan mengklasifikannya ke dalam 2 kelompok: fakta, pendapat dan perasaan. Dalam kelompok peserta menambahkan respon mereka dalam tabel dan mendiskusikannya (lampiran 5)
| Fakta-fakta | Perasaan/pendapat |
| | |
4. Kelompok kelompok saling bertukar tabel mereka. Fasilitator meminta setiap kelompok menjelaskan bagaimana mereka memutuskan di mana mereka akan menempatkan respon mereka. (mereka menjelaskan bagaimana mereka mengetahui apakah pernyataan mereka fakta atau pendapat). Fasiltator bertanya di mana peserta menemukan fakta fakta yang mereka catat.
5. Fasiltator bertanya: apa kita namakan informasi yang mempunyai banyak fakta dan cerita mengenai topik atau peristiwa khusus ( laporan)
Kegiatan:
(Berpasangan)
1. Fasiltator menyuruh peserta mendiskusikan dengan pasangan masing masing untuk beberapa menit bagaimana informasi mengenai tsunami disampaikan dengan cara yang berbeda beda di media masa (yakni laporan tertulis, photo, video, pengalaman penderita dsb) Fasiltator minta kelompok memutuskan menurut pendapat mereka cara mana yang paling efektif untuk melaporkan. Jelaskan pilihan mereka
2. Fasiltator menjelaskan bahwa “Beberapa laporan yang kita lihat adalah semata mata factual, (laporan informasi) beberapa menceritakan apa yang terjadi melalui kaca mata dari orang yang menjadi korban (cerita pengalaman)Apa beda antara cerita pengalaman dengan laporan informasi? (peserta berdiskusi berpasangan selama 3 menit) Fasilitator meminta tanggapan peserta dan mendiskusikan perbedaan perbedaan ( sering lebih banyak komentar perorangan dan emosional dari peristiwa, peristiwa diceritakan dari sudut orang pertama, dari sudut pandang penulis)
3. Fasilitator menjelaskan bahwa kadang-kadang, kita melihat grafik, bagan atau diagram di dalam laporan. Mengapa penulis memilih menyajikan informasi dengan cara ini? (angka angka sering lebih mudah dimengerti di dalam tabel, lebih efektif untuk perbandingan, informasi mengenai geografi sering lebih jelas untuk dilihat dalam peta atau diagram)
4. Peserta mendiskusikan secara berpasangan dalam beberapa menit dan fasilitator mendengarkan beberapa tanggapan.
( Kelompok )
1. Fasiltator menjelaskan kepada peserta bahwa mereka akan melaporkan informasi mengenai tsunami dengan cara yang berbeda-beda. Aka ada 3 kelompok:
- Kelompok 1: menulis laporan informasi
- Kelompok 2: menulis cerita pengalaman tentang tsunami
- Kelompok 3: menyajikan grafik “sejarah tsunami”
Lihat lampiran 6-8.
2. Setiap kelompok akan mendapat lembar kerja dengan instruksi dan bahan bahan untuk menyelesaikan tugas. Mereka akan memutuskan bagaimana mereka akan menyajikan hasil kerja mereka kepada seluruh kelas dengan cara yang menarik dan informatif.
Kesimpulan:
Masing masing kelompok menyajikan laporan mereka ke semua peserta. Mereka menjelaskan jenis laporan dan metodenya, misalnya menjelaskan jenis laporan dan ciri ciri laporan mereka. Kelompok lain menggunakan ceklis sederhana untuk menilai apakah ciri-ciri laporan masuk ke dalam presentasi mereka.
Lampiran 5
Fakta, Pendapat Dan Perasaan
| Fakta-fakta | Perasaan/pendapat |
| | |
Lampiran 6
Lembar kerja untuk kelompok 1
Laporan Informasi.
TUGAS: Dengan menggunakan bahan informasi yang diberikan fasilitator, buatlah laporan yang disajikan di surat kabar (suatu naskah perlu dibuat kalau Anda memilih laporan TV)
Semua laporan harus mencakup:
· Judul laporan (kalau tertulis)
· Pendahuluan umum
· Satu seri pernyataan yang memberikan rincian fakta tentang pokok bahasan (apa, kapan, di mana, mengapa)
· Ringkasan informasi yang diberikan
Anda perlu memutuskan siapa yang akan menjadi
· Ketua kelompok. Yang akan bertanggung jawab agar masing masing anggota kelompok mempunyai tugas untuk dikerjakan, secara individual atau berpasangan: misalnya, beberapa anggota kelompok bertugas untuk kerja mengenai pendahuluan, beberapa orang mengenai uraian tentang fakta fakta. Rangkuman dapat dilakukan setelah semua bagian lain selesai dikerjakan. Ketua kelompok harus menjamin bahwa setiap orang aktif, dan mempunyai tugas untuk dikerjakan untuk menyelesaikan tugas kelompok.
· Pelapor. Satu atau dua orang akan bertanggung jawab untuk menyampaikan laporan pada akhir sesi
· Penerbit. Satu atau dua orang akan bertanggung jawab mengorganisir “penerbitan” atau “penyajian” artikel. Bagaimana ujud laporan? Apakah akan ada gambar gambar dll. Waktu penyajian, siapa yang akan menjadi pembaca berita? Naskahnya bagaimana? Kalau mereka harus “membaca berita TV” apa yang akan berbeda?
Lampiran 7
Lembar kerja untuk kelompok 2
Tuliskan pengalaman mengenai tsunami dari kacamata kurban
TUGAS: Kelompok bertugas untuk membuat buku kecil mengenai cerita pengalaman pengalaman dari korban tsunami.Anda membayangkan berada dekat pantai Aceh pada waktu air menerjang
Cerita pengalaman Anda perlu mencakup:
· Peristiwa ditulis dari sudut orang pertama, dari kaca mata penulis
· Laporan pengalaman menceritakan siapa saja yang terlibat, di mana peristiwa terjadi, kapan terjadi dan bagaimana
· Laporan Anda harus mencakup komentar pribadi Anda, perasaan dan emosi berkaitan dengan peristiwa.
Bacalah cerita pengalaman dari para korban yang selamat dari bencana tsunami untuk membantu Anda
Kelompok Anda perlu memutuskan berama sama cerita ini dtulis mengenai siapa misalnya: dari seorang anak, seorang nelayan, dari seorang pemilik warung di dekat pantai, dari seorang tua, dsb. Tentukan siapa yang akan menulis cerita yang mana. (Apakah Anda memerlukan ketua kelompok? Bagaimana Anda dapat melakukannya?)
Anggota kelompok perlu bekerja berpasangan untuk menulis dan memberikan ilustrasi pengalaman mereka. Kelompok kemudian memutuskan bagaimana menyajikan pengalaman mereka dalam buku. Anggota kelompok juga memutuskan bagaimana mereka akan mempresentasikan karya mereka ke depan kelas. (apakah seseorang akan membacakan beberapa cerita? Atau meminta kelompok lain membacakan cerita mereka? Dsb) Bagaimana mereka akan membacakan cerita mereka? Apakah seperti laporan berita? Apakah akan emosional?
Lampiran 8
Lembar kerja untuk kelompok 3
Laporan Grafik tentang Tsunami yang terkenal
TUGAS: Kelompok Anda perlu membuat tabel berisi informasi mengenai Tsunami dan memutuskan bagaimana cara menyajikannya dalam bentuk grafis*.
Sebagai kelompok lihatlah informasi dan sumber sumber yang ada, dan diskusikan bagaimana dapat menyajikan informasi tsb lebih menarik dalam bentuk grafis.Laporan grafis Anda harus membuat pembaca lebih mudah mendapat informasi tentang tempat, waktu, dan peristiwa yang terjadi.
Beberapa ide sebelum Anda mulai:
· Bagaimana Anda dapat menggunakan peta yang ada?
· Apakah Anda akan menyajikan dalam garis waktu yang menyatakan urutan peristiwa secara kronologis?
· Apakah Anda akan menyajikan peta lokasi sebagai yang terpenting?
· Bagaimana Anda akan mencantumkan informasi mengenai jumlah korban?
Pilihlah ketua kelompok yang akan menjamin bawa setiap anggota akan mengambil bagian dan setiap orang mempunyai tugas untuk dikerjakan
Pertama tama, putuskan bagaimana kelompok akan menyajikan informasi. Kemudian bagi tugas di antara anggota, baik perorangan maupun berpasangan untuk menyelesaikan bagian tugas. Setiap orang dalam kelompok harus mengerjakan sesuatu untuk menambah laporan grafis. Gunakan bahan ekstra (Lihat Lembar Informasi hal 4-23) yang tersedia untuk membuat laporan grafis lebih menarik.
Tentukan bagaimana kelompok akan menyajikan laporan dan apa yang akan ditunjukkan dalam laporan
Lembar Informasi untuk Kelompok 3
Tsunami yang Terkenal
· 26 Desember, 2004: Suatu gempa bumi kuat di lepas pantai Sumatra melahirkan gelombang tsunami yang menghancurkan garis pantai pantai di 10 negara, lmenewaskan ebih dari 225.000 orang
· 17 Juli , 1998: Satu tsunami menimpa pantai utara Papua New Guinea, menewaskan 2000 orang.
· 16 Agusus 1976:satu tsunami menghantam daerah teluk Moro di Philipina , menewaskan 5000 orang
· 22 Mei , 1960: Satu tsunami yang tingginya 35 kaki menimpa Chili, Hawaii, Philipina, Okinawa dan Jepang. Lebih dari 1000 orang meninggal
· 27 Augustus , 1883: Letusan gunung Krakatau menimbulkan tsunami yang membanjiri pantai Jawa dan Sumatera, menewaskan 36.000 orang
Dari http://www.HowstuffWorks.com “How Tsunamis Work”
lampiran 9
Lembar Observasi PAKEM
| No | Aspek | Uraian/temuan |
| 1 | Bagaimana bentuk tugas yang diberikan? | |
| 2 | Apa yang dikerjakan siswa untuk melakukan tugas tersebut? | |
| 3 | Kemampuan apa yang dikembangkan melalui tugas tersebut? | |
| 4 | Bagaimana bentuk pertanyaan yang diberikan dalam tugas? | |
| 5 | Jenis pertanyaan apa saja yang diajukan guru kepada siswa dalam pembelajaran? | |
| 6 | Sejauh mana guru memperhatikan perbedaan siswa? | |
| 7 | Apa yang dilakukan oleh siswa selama mengerjakan tugas? | |
| 8 | Sejauh mana siswa diberi kesempatan untuk menanggapi kegiatan belajar yang telah dilakukan? | |
| 9 | Apa yang dilakukan siswa pada saat belajar kelompok, individu, berpasangan, atau klasikal? | |
| 10 | Pada saat ada kerja kelompok, berapa jumlah anggota kelompok? | |
| 11 | Apakah semua siswa terlibat dalam kegiatan kelompok? | |
| 12 | Apa yang dilakukan guru selama anak mengerjakan tugas? | |
Lampiran 10
BAHAN UNTUK FASILITATOR
Bacaan
| Dari Kompas Minggu 27 Februari 2005, H. 37. Rahasia Segitiga Bermuda Banyak cerita tentang hilangnya kapal laut beserta seluruh awaknya kala berlayar di daerah yang disebut sebagai daerah Segitiga Bermuda. Kata segitiga diambil dari titik-titik yang diproyeksikan di peta, bentuknya seperti segitiga, dengan lokasi di Kepulauan Bermuda, Puerto Riko, dan Florida. Semuanya berada di Samudra Atlantik! Kapal yang tercatat hilang, antara lain, terjadi pada April 1925. Kapal pengangkut barang Raifuku Maru dari Jepang tenggelam setelah mengirim berita, "Seperti pisau raksasa! Cepat, tolong! Kami tak mungkin lolos!" Namun kapal itu tak lagi menjawab, hilang membawa seluruh awaknya. Bulan Oktober 1951, kapal tanker Southern Isles mengalami nasib yang sama. Ketika sedang berlayar dalam konvoi, tiba-tiba ia menghilang. Kapal yang lain hanya sempat melihat cahaya kecil yang dianggap sebagai cahaya yang ditinggalkan oleh kapal yang tenggelam itu. SESUDAH itu, pada Desember 1954, kapal tanker kembarannya, Southern Districts juga tenggelam dengan cara yang mirip. Ia lenyap tanpa meninggalkan tanda SOS ketika berlayar melintasi wilayah itu ke utara menuju South Carolina. YANG tercatat di atas hanya peristiwa-peristiwa yang mencolok saja. Padahal, masih banyak kapal kecil yang hilang. Bahkan, pesawat terbang pun ikut jadi korbannya. Pada 5 Desember 1945, tercatat lima pesawat pelemparan torpedo Grumman TMB-3 Avenger lenyap. Sebelum hilang kontak, mereka menyatakan tidak tahu arah. Padahal, komandan penerbangan itu, Letnan Udara Charles Taylor, sudah mengantongi 2.500 jam terbang. Jadi, dia bukan penerbang yang tidak berpengalaman. Bahkan, sebuah pesawat penyelamat yang dikirim pun lenyap ditelan "air putih". UFO atau gas metana? MENURUT buku penulis Amerika Charles Berlitz, The Bermuda Triangle, terbitan Doubleday & Co, New York 1974 disebutkan bahwa kapal laut dan pesawat yang hilang itu diserang oleh makhluk ruang angkasa atau UFO yang naik piring terbang bercahaya putih. Jadi, cahaya putih yang dilihat para korban sebelum kehilangan kontak adalah cahaya piring terbang makhluk ruang angkasa. ATAU ada lagi ilmuwan yang mengatakan bahwa pesawat dan kapal laut itu tersedot ke lubang lorong waktu seperti hilangnya semua materi kalau masuk black hole. Menurut istilah astronomi, black hole itu sendiri adalah benda angkasa yang memiliki gravitasi atau gaya tarik yang hebat, sampai-sampai bisa menarik benda yang ada di sekitarnya dan dalam sekejap "menelannya". Bahkan cahaya pun bisa "ditelannya". MENURUT Bill Dillon dari US Geological Survey, Woods Hole Field Center, beberapa korban sebelum kehilangan kontak selalu menggambarkan ada cahaya putih. Kemungkinan itu adalah semprotan gas metana dari dalam air. Seperti blow out atau semburan air yang mendidih akibat dipanasi gas metana yang ada di dalam laut. Asal kamu tahu saja, di daerah Segitiga Bermuda terdapat tambang metana. Nah, kalau keluar saat dasar laut retak, gas itu akan mendorong air laut ke atas. Dorongannya itu tidak tanggung-tanggung, berupa semburan kuat dan mendidihkan air laut. Jadi, pesawat pun bisa terkena semburannya! TEORI lain sebagai penyebab hilangnya pesawat terbang di daerah itu adalah rusaknya kompas. Karena para awak jadi tidak tahu posisinya, mereka lalu berputar-putar sampai pesawat kehabisan bahan bakar, lalu jatuh laut! Rusaknya kompas mereka pasti karena medan magnet. Meskipun belum bisa dijelaskan medan magnet apa yang merusak kompas, prof Yohanes Surya PhD, ahli fisika kita setuju dengan penulis asing, Larry Kusche, dalam bukunya The Bermuda Triangle Mystery Solved. Tertulis di buku itu bahwa hilangnya kapal di segitiga itu dapat dijelaskan secara rasional. Ada yang berupa kecelakaan, cuaca buruk, kehabisan bahan bakar, dan sebagainya. Maka, kita tak perlu penjelasan yang aneh-aneh dan bersifat takhayul. TAKHAYUL atau bukan, tidak jadi soal. Yang pasti, kalau harus lewat daerah segitiga itu, kita jadi ngeri juga. Bagaimana kalau tiba-tiba... wuzzz! Lenyap deh kita! Ih, jangan sampai deh! Contoh pertanyaan 1. Pertanyaan mencari informasi: Di mana letak Segitiga Bermuda? 2. Pertanyaan memanfaatkan pengetahunan: Penjelasan yang diberikan oleh penulis tentang peristiwa Segitiga Bermuda mana yang menurutmu paling mungkin? 3. Pertanyaan yang menciptakan sesuatu yang baru/memberikan pendapat: Sependapat atau tidak dengan kesimpulan yang ditarik oleh penulis artikel ini, bahwa “Takhayul atau bukan, tidak jadi soal”? Berikan alasan atas pendapatmu. |
Lampiran 11
Tugas/Kegiatan Yang Sesuai Untuk Masing-masing Jenis Organisasi
| Pengorganisasian kelas | Jenis kegiatan seperti apa? |
| Klasikal: seluruh kelas mengerjakan hal yang sama | |
| Kelompok: sekelompok siswa mengerjakan satu tugas bersama sama | |
| Perorangan: anak mengerjakan tugas sendiri sendiri | |
Lampiran 12
Mengidentifikasi Kegiatan Yang Harus Dikerjakan Secara Klasikal, Kelompok Atau Individu
| No | Kegiatan pembelajaran | Pengelolaan kelas | Alasan | ||
| Klas | klp | indv | |||
| 1. | Mendengarkan instruksi guru | | | | |
| 2. | Menggunakan termometer | | | | |
| 3. | Mencari kota-kota di peta | | | | |
| 4. | Melaporkan hasil tugas | | | | |
| 5. | Membuat diagram alir | | | | |
| 6. | Curah pendapat tentang tsunami | | | | |
| 7. | Menceritakan pengalaman waktu kecil | | | | |
| 8. | Meragakan tokoh cerita | | | | |
| 9. | Menulis cerita | | | | |
| 10. | Mengerjakan soal-soal matematika halaman 60 | | | | |
| 11. | Memperkirakan luas ruang kelas | | | | |
Lampiran 13
| · Tugas yang tidak sesuai dikerjakan kelompok diberikan pada kelompok: misalnya 8 anak menulis satu cerita padahal satu anak yang menulis dan yang lain tidak melakukan apa-apa · Satu pertemuan belajar bisa memakai beberapa jenis pengelolaan kelas tergantung dari apa yang diinginkan dari siswa. · Pemberian instruksi tugas pada awal pembelajaran harus klasikal karena penting bagi semua anak untuk mendengar hal yang sama · Anak perlu membahas ide-ide cerita dalam kelompok karena bertukar pikiran itu penting bagi anak. (memanaskan pikiran kalau ditukar) · Menulis cerita/laporan dilakukan perorangan karena penting bagi anak untuk mengekspresikan diri · Memberikan umpan balik tentang cerita/laporan yang telah ditulis dilakukan dalam kelompok supaya anak lebih berani mengeluarkan pendapat dan peluangnya juga lebih banyak. · Pemindahan kursi untuk kerja kelompok belum berarti bahwa itu sebagai indikator kerja atau belajar kelompok yang efektif · Untuk memberikan pengalaman belajar kepada peserta, fasilitator perlu memperhatikan dan praktik langsung tentang penataan kursi, peran setiap anggota kelompok, pengaturan waktu, tugas antar individu untuk menciptakan saling ketergantungan positif antar peserta. · Untuk menguatkan pemahaman peserta, perlu diperhatikan dan disampaikan alasan-alasaan pengelompokan. |
Lampiran 14 Bahan Pembelajaran Kooperatif
Fasilitator harus menekankan bahwa ini adalah salah satu jenis kerja kelompok, dimana seluruh anggota kelompok terlibat dalam menghasilkan produk tersebut.
1. Menulis cerita kelompok.
a. Setiap anggota kelompok memilih sebuah topik yang menarik untuk membuat cerita secara berkelompok, misalnya gempa bumi di Jakarta, pesawat Garuda mendapat masalah di atas pelabuhan udara Jakarta, semua menteri pemerintah dikejutkan oleh penyakit serius yang misterius, dan lain-lain.
b. Setiap anggota kelompok menulis judul cerita yang mereka pilih serta tiga kalimat pertama untuk mengawali cerita.
c. Anggota-anggota kelompok memutar cerita mereka ke arah sebelah kiri mereka, dan masing-masing anggota yang menerimanya harus melanjutkan cerita yang ada di hadapan mereka. Masing-masing memiliki waktu dua menit untuk membaca dan menulis.
d. Jika sudah selesai, kelompok berbagi cerita dan memilih salah satu cerita untuk dibacakan di kelompok.
Perluasan / kegiatan tambahan: Anggota-anggota kelompok menyunting cerita tersebut untuk memangkas panjangnya dan meningkatkan kualitas ceritanya.
Peran dalam kelompok:
Ketua: Harus menerangkan kegiatan-kegiatan, berusaha agar kelompok tetap terlibat dalam tugas. Membantu membuat keputusan.
Penjaga waktu: Harus memberitahu anggota kelompok untuk saling bertukar dan melanjutkan cerita setiap dua menit. Ketika ceritanya berkembang kian panjang, si penjaga waktu bisa menambah menjadi tiga menit, untuk memberi waktu membaca ulang dan menulis.
Pelapor: membaca cerita yang dipilih di kelompok tersebut.
2. Merumuskan Pertanyaan secara Kooperatif
- Tiap kelompok diberi sebuah artikel/bacaan, satu kopi tiap anggota kelompok jika mungkin;
- Secara perorangan, anggota merumuskan 5 pertanyaan, berkaitan dengan artikel tersebut, 1 pertanyaan pada sehelai pita kertas*; kemudian menempatkannya di tengah meja. Peserta harus merumuskan pertanyaan yang baik dan bervariasi, misal meliputi pertanyaan tingkat rendah dan tinggi serta tertutup dan terbuka, seperti yang telah dipelajari pada sesi “keterampilan bertanya”;
- Setelah terkumpul, kelompok mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan itu dan memilih satu bila ada yang sama. Kelompok harus memutuskan/memilih 10 pertanyaan seakan-akan untuk lembar kerja bagi siswa berkaitan dengan artikel itu. Kelompok harus mendiskusikan pertanyaan mana yang harus dipertahankan dan mana yang dibuang dengan alasan apa;
- Bila 10 pertanyaan sudah diputuskan untuk dipilih, tulis pertanyaan itu pada kertas lebar sebagai hasil kelompok. Di kelas, pertanyaan dan artikel itu dapat diberikan kepada kelompok lain untuk dijawab;
Pemimpin diskusi: memimpin diskusi tetapi tidak mengambil keputusan. Mengontrol anggota sehingga masing-masing memberi komentar dan memiliki kesempatan utk berbicara.
Pencatat: menulis 10 pertanyaan terpilih.
Lampiran 15, Bahan untuk Menyusun Pertanyaan Secara Kooperatif
Oleh :
Zackir El Makmur
Almarhum Pak Haji Metong mempunyai 8 rumah kontrakan. Setiap rumah terdiri dari 3 kamar dan dikontrakkan tiap bulannya Rp. 65.000,- Suarsih, bersama anaknya berusia satu setengah tahun, tinggal di salah satu rumah itu. Sambil mengasuh anaknya, ia membuka warung makanan dan jajan goreng-gorengan. Hasilnya lumayanlah, bisa membeli susu untuk anaknya.
Tetapi kini, sejak Pak Haji Metong meninggal dua bulan lalu, istrinya menjual semua rumah, termasuk rumah inti yang ditempati keluarga tersebut. Pembelinya, orang Kampung Baru yang biasa dipanggil Bu Tati. Halaman rumah Bu Tati yang luas dan berpagar tinggi empat meter, yang berada persis di samping rumah Pak Haji Metong itu, karuan saja bertambah luas.
Penduduk kampung banyak yang memuji-muji kekayaan Bu Tati, tetapi semua orang belum pernah melihatnya karena dia sealu mengendarai mobil mewah dengan kaca gelap.
Suarsih tidak peduli siapa pemilik rumah kontrakan itu. Toh buatnya, tetap saja ia bakal menunaikan kewajibannya membayar uang kontrakan, dan dia ia bisa menempatinya dengan nyaman. Dengan berdagang kecil-kecilan di rumah kontrakan ini, dia bisa merawat Anto dengan lebih tertib daripada waktu dia masih menjadi buruh cuci. Juga bisa menyambut sang suami yang kadang pulang, kadang gilir ke rumah istri tuanya.
Pokoknya, rumah dalam pengertian Suarsih adalah semacam sarang menenteramkan. Tidak peduli sekalipun rumah itu rombeng atau rumah kontrakan. Pengertian Suarsih memang kelewat sederhana. Sebab ia tahu betul bahwa tinggal di Jakarta kalau mau dapat lingkungan rumah mentereng harus punya duit banyak. Tanpa itu cuma mimpi
Kadang-kadang, Suarsih juga sempat mengkhayal, seandainya ia jadi Bu Tati. Rumah gedong, pembantunya empat, mau apa saja tinggal bilang, segalanya ada yang melayani dan tersedia, dan dipuji-puji warga. Ketika sadar, segera ditepiskan khayalannya itu. Dia sudah cukup bersyukur dapat menempati rumah kontrakan yang sangat sederhana.
Tetapi, kenyamanan dan kebahagiaannya itu hanya sekejap. Sebab, apa yang semula Suarsih anggap bahwa siapa pun pemilik rumah kontrakan yang ia tempati itu tidak akan mengusik keadaannya, ternyata keliru. Bu Tati pemilik baru rumah-rumah kontrakan itu mau meratakannya karena akan membangun taman dan kolam renang di situ. Semua penghuni rumah kontrakan itu menjadi gelisah dan risau.
“Kenapa risau? Cari saja tempat lain.” Ujar Bu Tati enteng saja. Suarsih cuma tarik nafas. Baru kali ini dia bertemu muka dengan orang yang namanya di puji-puji orang sekampung itu.
“Setidaknya saya butuh waktu, Bu”, jelas Suarsih pelan.
“Secepatnya sajalah”, gampang saja Bu Tati berkata.
“Baik, Bu,” jawabnya pelan.
Sambil menggendong anaknya Suarsih menelusuri wilayah itu untuk mencari rumah kontrakan baru. Semua tempat yang banyak rumah kontrakan ia datangi. Tidak ada yang cocok, yang sesuai dengan kemampuannya. Dan hal ini membuatnya makin risau saja. Apalagi Bu Tati mendesak terus menyuruh pindah karena ia dianggap mengulur-ulur waktu saja.
